SEMPU — Menghadapi ancaman nyata fenomena iklim El Nino yang berpotensi memicu kekeringan panjang dan krisis air, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sempu bergerak cepat dengan menggelar rapat koordinasi darurat, Kamis (7/5). Pertemuan strategis yang berlangsung di Kantor Kecamatan Sempu ini ditujukan untuk menyusun langkah mitigasi konkret dan taktis guna meminimalisasi dampak buruk cuaca ekstrem terhadap masyarakat serta sektor pertanian lokal.
Hadir langsung dalam kesempatan tersebut Camat Sempu Mujito, SKM, M.Mkes, perwakilan Danramil 0825/19 Sempu Pelda Ronio, perwakilan Kapolsek Sempu Aiptu Nanang, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sempu, Kepala BKPH wilayah Glenmore dan Sempu, serta seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Sempu.
Camat Sempu, Mujito, dalam arahannya menekankan bahwa kesiapsiagaan di tingkat paling hilir, yakni pemerintahan desa, menjadi kunci utama pertahanan wilayah dalam menghadapi gelombang panas tahun ini. “Sinergi antara pemerintah kecamatan, TNI, Polri, dan pihak kehutanan sangat krusial saat ini. Kita harus memastikan kebutuhan dasar masyarakat, terutama air bersih, tetap terpenuhi secara merata,” tegas Pelda Ronio saat memberikan sambutan mewakili Danramil 0825/19 Sempu.
Aparatur kepolisian dan militer di tingkat kecamatan berkomitmen penuh untuk mengawal seluruh rantai logistik dan pengamanan wilayah guna mengantisipasi gejolak sosial akibat potensi kelangkaan komoditas air.
Tiga Instruksi Utama Kades
Berdasarkan hasil musyawarah mufakat lintas sektoral, terdapat tiga instruksi utama yang wajib segera diimplementasikan oleh seluruh jajaran Kepala Desa, di antaranya Kades Tegal Arum (Turmudi), Kades Sempu (Nanang), Kades Gendoh (Didik Darmadi), dan Kades Jambewangi.
Pertama, para kepala desa wajib menginventarisasi dan membangun tandon air di titik-titik strategis rawan kekeringan sebagai cadangan pasokan air bersih warga. Kedua, sosialisasi masif dilakukan kepada warga di tepian kawasan hutan agar tidak melakukan pembakaran daun kering atau sampah guna mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ketiga, edukasi menyeluruh mengenai pola pemakaian air bersih secara bijak dan efisien selama masa fluktuasi iklim ekstrem.
Pihak BKPH dan BPP Sempu juga menambahkan, sektor pertanian dan kelestarian hutan menjadi dua pilar yang paling rentan ambruk jika instruksi mitigasi ini tidak diindahkan oleh masyarakat bawah.
Rapat ditutup dengan komitmen bersama untuk melakukan monitoring berkala di lapangan demi memastikan seluruh langkah antisipasi berjalan optimal sebelum puncak gelombang El Nino melanda wilayah Banyuwangi barat.
